DR. Popi Puadah: Ibumu adalah Rajamu, Utamakan Dia dari Segala Urusan

indonesiasatu, 23 Dec 2018,

PENDIDIKAN - 22 Desember 2018 hari ini merupakan hari ibu, yaitu hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun untuk lingkungan sekitarnya, dengan tujuan semua pihak dapat menghargai peran seorang ibu. Hari ibu ini bisa menjadi peringatan bagi anak-anak agar memperhatikan dan menyayangi ibu-ibu mereka, dan juga peringatan bagi ibu-ibu agar melaksanakan tugas dan perannya sebagai ibu yang harus mendidik dan menyayangi anak-anaknya.

Ibu adalah sosok yang sangat dijunjung tinggi harkat dan martabatnya dalam Islam, salah satu bukti penghargaan Islam terhadap seorang ibu dapat terlihat dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim berikut ini: 

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi saw menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'”(HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Kenapa dalam hadits tersebut seorang ibu lebih tinggi derajatnya untuk dihormati daripada ayah? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu kita harus membandingkan peran, tanggung jawab, dan sekaligus kesulitan antara seorang ibu dengan seorang ayah dalam membesarkan anak-anaknya. Ibu dalam bahasa Arab disebut “umi” adalah sebutan untuk perempuan  yang mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, dan mendidik anak-anaknya. Sedangkan ayah dalam bahasa Arab disebut “aba”adalah seorang laki-laki yang memberikan nafkah dalam rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum serta membiayai pendidikan anak-anaknya. Kondisi ini terjadi hampir pada setiap rumah tangga, walaupun ada beberapa ibu dan ayah tidak menjalankan fungsi tersebut dengan baik.     

Dari sisi anak, hari ibu mengingatkan kita untuk selalu berbakti dan membahagiakan ibu kita yang sudah banyak berkorban untuk kita sampai kita dewasa, bahkan mungkin ketika sudah berumah tangga pun masih banyak anak yang menyusahkan ibunya dengan menitipkan anak kita sebagai cucunya. Sejak mengandung seorang ibu sudah merasakan kesusahan sampai 9 bulan, dia merasakan ngidam yang menimbulkan kepayahan, merasakan tidur yang tidak nyaman, dan beberapa kesulitan lainnya selama berbulan-bulan. Ketika melahirkan, seorang ibu juga mempertaruhkan hidup dan matinya untuk menyelamatkan anaknya. Ketika sudah lahir, seorang ibu juga harus berjuang keras untuk merawat, membesarkan, dan mendidiknya terus sampai dia dewasa. Sering dia terbangun di tengah malam karena harus mengganti popok atau menyusui karena anaknya kelaparan. 

Dengan perjuangan seorang ibu seperti di atas, maka wajar jika doa seorang ibu sangat mustajab sekalipun doa yang jelek buat anaknya, sebagaimana kisah Juraij yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikut ini:

“Rasulullah saw bersabda: Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali Isa bin Maryam dan (bayi di masa) Juraij” Lalu ada yang bertanya,”Wahai Rasulullah siapakah Juraij?” Beliau lalu bersabda, ”Juraij adalah seorang rahib yang berdiam diri pada rumah peribadatannya (yang terletak di dataran tinggi/gunung). Terdapat seorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya dan seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya).

(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya.  Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau shalatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur.” Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya.

Wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam keadaan telah melahirkan seorang anak. Raja itu bertanya kepada wanita tersebut, ”Hasil dari (hubungan dengan) siapa (anak ini)?” “Dari Juraij”, jawab wanita itu. Raja lalu bertanya lagi, “Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?” “Benar”, jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.” Orang-orang lalu menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali lalu membawanya menghadap raja. Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara manusia.

Raja lalu bertanya padanya, “Siapa ini menurutmu?” Juraij balik bertanya, “Siapa yang engkau maksud?” Raja berkata, “Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.” Juraij bertanya, “Apakah engkau telah berkata begitu?” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lalu bertanya, ”Di mana bayi itu?” Orang-orang lalu menjawab, “(Itu) di pangkuan ibunya.” Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu, ”Siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi.”

Kontan sang raja berkata, “Apakah perlu kami bangun kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas?” Juraij menjawab, “Tidak perlu”. “Ataukah dari perak?” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?”, tanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah seperti sedia kala.” Raja lalu bertanya, “Mengapa engkau tersenyum?” Juraij menjawab, “(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal itu kepada mereka.” (Disebutkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod) [Dikeluarkan pula oleh Bukhari: 60-Kitab Al Anbiyaa, 48-Bab ”Wadzkur fil kitabi Maryam”. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 7-8]

Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan seorang anak yang menelantarkan ibunya, dengan alasan sibuk dan tidak bisa merawatnya dia titipkan ibunya yang sudah tua renta di Panti Wreda. Panti Wreda memang panti yang khusus merawat orang-orang yang sudah tua dengan baik karena dibiayai oleh pemerintah, tetapi seorang ibu yang dulu merawat anak-anaknya dengan segala perjuangannya mengorbankan seluruh jiwa dan raganya, tentu akan lebih bahagia jika bisa melihat tumbuh kembang cucu-cucunya dan melihat anak-anaknya tidak kekurangan dalam hidupnya.   

Dari sisi seorang ibu, hari ibu juga mengingatkan kepada para ibu bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk merawat, membesarkan, dan mendidik anak-anaknya. Akhir-akhir ini miris hati kita karena sering mendengar seorang ibu yang tidak menjalankan peran dan tanggung jawabnya dengan baik, bahkan bisa dibilang keji. Jika kita melihat berita yang ditayangkan televise, kita sering mendengar ada seorang ibu yang tega menjual anaknya, menyiksa bahkan sampai membunuh anaknya, menelantarkan anaknya, mempekerjakan anaknya sebagai pengemis, mempekerjakan anaknya sebagai pelacur, dan beberapa perbuatan keji lainnya.   

Memang berat tugas seorang ibu, karena dari tangan seorang ibu lah generasi penerus bangsa ini ditentukan. Ibu adalah orang pertama yang dikenal seorang anak, sejak dalam kandungan anak sudah mendapatkan pendidikan dari ibunya, ketika sudah lahir pun seorang anak mendapatkan contoh pertama juga dari ibunya, maka baik buruknya sikap seorang ibu akan berpengaruh terhadap baik buruknya karakter seorang anak di kemudian hari.

Demikianlah catatan kecil di hari ibu, meskipun hari ibu bukan berasal dari kebudayaan Islam, tetapi paling tidak di hari ibu ini kita bisa saling mengingatkan fungsi dan tanggung jawab masing-masing, baik sebagai seorang anak maupun sebagai seorang ibu  

*Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Islam Jakarta, Konsultan Manajemen Pendidikan, Saat ini ikut mencalon diri sebagai anggota DPR RI 2019-2024 dari partai Bulan Bintang untuk Dapil Jabar VII, daerah pemilihan Kabupaten Karawang, Bekasi, dan Purwakarta dengan nomor urut 3.      
   
  
                             


 

FB
WA Telegram
PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu